Bacaan Hari Ini
Hubungan dibangun atas dasar kepercayaan timbal balik—dan kepercayaan didasarkan pada komunikasi yang benar. Namun, ada cara menyampaikan kebenaran yang membangun, dan ada yang justru menyakitkan. Cara Alkitabiah adalah: ‘tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh.’ (Efesus 4:15) Misalkan sepasang kekasih bertengkar karena sang suami sering terlambat. Bagaimana ia dapat memastikan pesannya tersampaikan? Nah, ia dapat berkata kepadanya:
(a) ‘Saya merasa frustrasi.’ Tidak menyalahkan, tidak menyerang; hanya berbagi perasaan dengan jujur.
(b) ‘Ketika kamu terlambat…’ Tidak menghakimi, mencaci-maki, atau memberi label; hanya menjelaskan bagaimana ia melihat tindakan sang suami.
(,) ‘Itu membuatku merasa seolah-olah waktuku tidak penting buat kamu.’ Tidak menggurui; hanya berbagi perasaan dengan jujur.
(d) ‘Di masa mendatang, bisakah kamu berusaha datang tepat waktu atau meneleponku dan memberi tahuku kapan kamu akan datang?’ Daripada berfokus pada tindakan masa lalu yang tidak dapat diubahnya, ia memberi tahu sang suami apa yang ia ingin suaminya lakukan secara berbeda di lain waktu.
(e) ‘Apakah kamu bersedia melakukan itu untukku?’ Tidak menuntut atau menerima begitu saja; hanya meminta pertimbangan dan kerja sama. Dan ketika dia setuju, mereka memiliki ‘kontrak’ tersirat. Dia mengucapkan terima kasih dengan tulus dan menghargai setiap upaya yang dia lakukan untuk menepati janjinya. Sebenarnya, dia baru saja menyelaraskan kembali hubungan dengan menjadikannya sekutu, bukan musuh. "Ia juga telah mengalihkan fokus menjadi upaya bersama, bukan seolah-olah ia sedang 'mengubah pasangannya'.! Seperti yang dikatakan Alkitab, kita dapat ‘berjalan bersama’ ketika kita telah ‘setuju untuk melakukannya’.