Bacaan Hari Ini
Paulus menggambarkan keterhubungan sebagai ‘berakar serta berdasar di dalam kasih’. Ketika pohon menancapkan akarnya ke tanah, ia menyerap nutrisi dan air, dan pohon itu tumbuh dan hidup, tetapi hanya jika ia berakar. Dengan cara yang sama, kita berakar, dan jiwa kita dipelihara dalam kasih Tuhan—dan dalam persekutuan dengan orang lain. Kita mengalaminya secara fisik dan emosional ketika kita terhubung dengan seseorang. Ketika terjadi pertukaran kasih yang tulus, akar jiwa kita mendapatkan makanan. Kita berkembang ketika kita terhubung dengan Tuhan dan orang lain, dan kita merana ketika kita terputus dari hubungan. Orang yang terisolasi secara emosional lebih rentan terhadap depresi, kecemasan, kesepian, harga diri rendah, penyalahgunaan zat, kecanduan seksual, dan kesulitan makan dan tidur.
John Cacioppo dan William Patrick menulis: ‘Koneksi tidak hanya membantu kita menjadi diri kita sendiri… tetapi juga membantu menentukan siapa kita sebagai individu… Dalam kedua kasus tersebut, koneksi manusia, kesehatan mental, kesehatan psikologis, dan kesejahteraan emosional saling terkait erat.’ Bahkan hewan yang hidup dalam isolasi mengalami pengerasan pembuluh darah yang lebih parah. Seorang penulis menulis, ‘Seorang teman saya dulu punya anjing dan kucing yang bertengkar selama 10 tahun. Kemudian kucing itu mati… dan anjing itu tidak mau makan. Enam minggu kemudian dia mati.’ Itu hanyalah ilustrasi kecil tentang kekuatan koneksi.
Namun ini tidak berarti kamu harus memaksakan diri menjadi orang yang gampang bergaul. Beberapa orang paling pemalu justru memiliki pertemanan paling dalam, karena mereka bisa mengenali relasi yang memberi kehidupan, terhubung dengannya, bertumbuh, dan memberikan kembali Dan itulah yang Tuhan rancang untuk Anda juga.